Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Puisi

Senandung Luka Agnes Meilina Dekapan rindu mengusik diamku Lalu,  aku kembali pada memori itu. Tentang kita yang berbalut kasih Melupakan akal,  Bahwa kisah tidak ada kata abadi di dalamnya.  Jarak yang kian membentang Tidak pernah luput dalam pertimbangan Kini, aku dan kamu... Tidak akan menjadi kita. Torehan luka tidak pernah luput kauberi Deraian tangis selalu melingkupi diriku.  Menepis perasaan cinta yang menjadi canduku Aku mencoba pergi Memulihkan hati yang terlalu rapuh.  Namun, dengan teganya kaupaksa aku.  Mengekang aku di dalam singgasana yang kaubanganggakan.  Semesta, bolehkah aku pergi?  Menghapus semua cinta yang ternyata hanya sebatas narasi.  Aku terpaku pada satu kesadaran.  Kembali aku meluruh dalam pesonamu.  Walau tersingkap secara nyata,  Aku akan kembali terluka. 

Kumpulan Puisi-Puisi bertajuk Cinta

Merajuk Sendu Agnes Meilina Semburat sendu meliputi jiwaku Tegar mencoba kuraih Tak khayalku tak mampu Pilu rasaku membelenggu Tercabik dengan dingin Rintihan meluruh tanpa kuasa Sejenak ingin berhenti Luka, pilu, dan lara tak bisakah aku bebas? Lelah aku alami Hidup pun aku enggan Euforia itu sudah kurasa Aku rindu namun aku tak bisa Tuhan, inikah adil? Tulus aku tekuni Berujung sia-sia Tertatih aku jalani Menyerahlah akhirku Bahagia, anganku. *** Sang Kelabu Agnes Meilina Teruntuk sang petang Bolehkah aku mengumandangkan syair kerinduan?  Teruntuk relung batin yang kian merana Dapatkah dilema ini tersampaikan padamu?  Tentang aku...  Kamu...  Dan sang kelabu.  Semilir angin bersenandung merdu Menyurat kerinduan dalam lautan rasa Hendak melangkah walau aku tertatih Bak merujuk kasih dalam jeruji besi.